TRIBUNNEWS.COM - Berkat aksi
gemilangnya dalam menepis bola tendangan penalti, Kiper Keylor Navas
berhasil membuka jalan Kosta Rika mencetak sejarah di Piala Dunia.
Untuk yang pertama kali, Kosta Rika lolos babak perempatfinal setelah
melewati drama adu penalti melawan Yunani di Stadion Arena Pernambuco,
Recife, Senin (30/6). Dengan banderol 6,5 juta poundsterling, Navas pun
menjadi kiper yang diperebutkan oleh banyak klub.
Aksi penyelamatannya membuat tendangan penalti Michael Umana ke
gawang Yunani menjadi tendangan terakhir dan memastikan kemenangan Kosta
Rika atas Yunani dengan skor 5-3.
Usai laga, Navas menjadi pahlawan kemenangan. Masa depan kariernya
sebagai kiper juga semakin cerah. Dia menjadi kiper yang paling
diinginkan banyak klub, termasuk di antaranya adalah Liverpool, Arsenal,
dan Atletico Madrid.
Kontraknya di klub Levante akan segera habis dalam periode satu tahun
mendatang. Navas bisa saja hengkang meninggalkan klub tersebut. Dalam
surat perjanjian kerja, biaya yang harus dikeluarkan klub lain untuk
memboyongnya hanya sebesar 6,5 juta poundsterling atau sekitar Rp 132
miliar. Dengan angka sebesar itu, banyak klub berlomba memperebutkannya.
Piala Dunia sering menjadi "etalase" khusus untuk para pemain menjual
keahliannya bermain sepak bola, namun performa gemilang Navas tidak
hanya melulu saat pertandingan membela Kosta Rika di Piala Dunia Brasil
saja.
Seperti dilansir Dailymail, kiper klub Levante ini menjadi kiper
terbaik di La Liga Spanyol pada musim lalu. Dia sempat bersaing dengan
Thibaut Courtois, kiper Atletico Madrid untuk menjadi yang terbaik.
Dia menjadi kiper terbaik kedua di La Liga. Tapi, kalau melihat
kinerjanya berdasarkan jumlah penyelamatan, tak diragukan lagi, dia
adalah terbaik di Spanyol.
Courtois memang memiliki jumlah kebobolan yang lebih sedikit dari
Navas di Liga Spanyol. Namun jumlah kebobolan ini pun terbantu oleh para
pemain belakang di klub Atletico Madrid yang dikenal solid.
Di Levante, Navas memiliki tantangan lebih berat untuk membendung
lebih banyak serangan daripada Courtois di Atletico. Itu sangat terasa
ketika Levante dibantai Barcelona 0-7 di awal liga. Tapi jumlah
penyelamatannya juga lebih banyak.
Bos Arsenal, Arsene Wenger dan bos Liverpool, Brendan Rodgers sudah
lama memonitor performa kiper dengan tinggi badan 184 cm itu.
Juara La Liga 2014, Atletico Madrid juga tertarik untuk merekrutnya
sebagai kiper. Menggantikan Thibaout Courtois yang akan segera kembali
ke Chelsea setelah tiga musim jadi pemain pinjaman.
Namun Atletico Madrid tidak sendirian mengincar Navas. Karena
Arsenal, Liverpool, dan Everton juga sama-sama memantau dan juga berburu
untuk mendapatkan kiper berusia 27 itu.
Kecepatan responnya dalam membaca arah bola selalu dia latih. Salah
satu cara yang dia lakukan melatih respon adalah dengan latihan menepis
puluhan bola tenis. Satu per satu bola dipukul oleh pelatihnya memakai
raket. Navas menghadang bola-bola tenis tersebut yang melesat ke arah
gawang dengan kecepatan sekitar 161 kilometer per jam.
"Saya telah mengalami perjuangan yang sangat berat untuk bisa
mencapai situasi seperti saya yang sekarang. Setelah saya berusaha
keras, kini saatnya saya memetik hasil," kata Navas.
Rahasia keberhasilannya menepis tendangan penalti melawan Yunani
adalah karena dia sudah tahu ke mana arah bola yang akan ditendang oleh
pemain Yunani, Theofanis Gekas. Navas sudah mengenal karakter dan
kebiasaan menendang Gekas karena mereka pernah satu tim di Levante pada
2012-2013.
"Kami pernah main bersama di Levante dan Saya ingat apa yang biasa
dia lakukan saat latihan. Saya yakin dia tak akan mengubah arah
tendangan penaltinya dan pada akhirnya saya bisa menepis tendangannya,"
katanya.
Meski demikian, ukuran ketangguhan Navas toh bukan hanya saat menepis
tendangan itu. Ketangguhannya mengawal gawang sudah terlihat sejak
babak penyisihan grup.
Sepanjang 270 menit dalam tiga laga di babak penyisihan grup, gawang
Kosta Rika yang dijaga Navas hanya kebobolan satu gol ketika Kosta Rika
menang 3-1 atas Uruguay. Itu pun gol yang tercipta lewat tendangan
penalti oleh Edinson Cavani.
Di babak perempatfinal, Kosta Rika akan menghadapi Belanda. Navas pun
mengaku tak gentar. Karena dirinya sudah terbiasa menghadapi
pertandingan sulit dengan melawan pemain-pemain kelas dunia.
“Saya bermain di liga yang sangat kompetitif dan setiap hari Minggu
saya datang melawan beberapa pemain terbaik di dunia. Jadi saya tidak
lagi gugup menghadapi nama besar pemain. Saya merasa cukup santai. Bagi
saya itu adalah tantangan besar untuk bermain melawan yang terbaik,”
katanya dilansir situs resmi FIFA.
Lahir di San Isidro de ElGeneral, bakat sepak bola Navas sudah
terlihat sejak kecil. Ayahnya, Freddy merupakan pesepak bola. Adalah
Alfredo Whittaker, teman ayahnya yang kini menjadi wasit yang sudah
melihat talenta Navas sejak kecil.
"Keylor adalah kiper yang fantastis dan memberikan kontribusi yang
signifikan pada prestasi Kosta Rika yang luar biasa saat ini," kata
Whittaker yang juga melihat Navas sebagai kiper yang pemberani sudah
berbakat sejak kecil.
Meski demikian, saat remaja, dia kaget Navas pernah ditolak oleh klub lokal, Central Pacific. Mereka menilai Navas kurang bagus.
Kekecewaan tak diterima klub terobati. Tak lama berselang, Navas bisa
bergabung dengan klub Deportivo Saprissa. Dia melakoni debut di sepak
bola profesional bersama dengan klub itu pada 2005.
Satu tahun kemudian dia dipanggil timnas senior saat Kosta Rika
menghadapi laga persahabatan melawan Austria dan Swiss. Meski dia baru
dimainkan dua tahun setelahnya.
Dua musim pertama dia jadi andalan klub dan merebut tujuh gelar penting dan enam kejuaraan di level nasional.
Dua musim pertama dia jadi andalan klub dan merebut tujuh gelar penting dan enam kejuaraan di level nasional.
Dia bergabung dengan Albacete mulai Juli 2010. Sebanyak 42
pertandingan dilakoni klub itu di divisi dua, Navas hanya tidak main di
enam laga di antaranya.
Saat klub terdegradasi, Navas promosi ke La Liga pada 2011-2012
bergabung dengan Levante. Meski di tahun pertama dia hanya tampil satu
kali, namun di tahun berikutnya dia menjadi kiper andalan Levante.
Menjelang pertandingan Kosta Rika melawan Belanda di perempatfinal
pun, Whittaker berani meramalkan Kosta Rika bisa saja memberikan
perlawanan pada Belanda.
Meski demikian, di Piala Dunia ini, Whittaker menjagokan Belanda
sebagai calon juara. Apalagi saat ini didukung pemain bintang seperti
Robin Van Persie, Wesley Sneijder, dan Arjen Robben.

0 comments:
Post a Comment