Written By Mary R. Baker on Tuesday, July 1, 2014 | 10:01 AM


Perbincangan mengenai Luis Suarez belum akan usai sampai setidaknya sampai Piala Dunia 2014 berakhir. Bukan dua golnya ke gawang Inggris yang menjadi topik hangat, melainkan aksi gigitannya terhadap pemain belakang Italia, Giorgio Chiellini.

FIFA, selaku organisasi sepak bola dunia langsung bergerak cepat melakukan investigasi sekaligus pertemuan untuk membahas dugaan gigitan Suarez terhadap Chiellini. Berbekal tayangan ulang televisi dan bekas luka di bahu Chiellini, Suarez diputuskan bersalah.

Hukuman bagi penyerang Uruguay tersebut tidak main-main. Dia dihukum larangan membela Uruguay dalam sembilan pertandingan internasional resmi sesuai kalender FIFA, denda 100 ribu franc Swiss (sekitar Rp 1,4 miliar), serta tidak boleh terlibat dalam kegiatan sepak bola selama empat bulan. Itu berarti dia tidak akan membela negaranya setidaknya hingga tahun depan mengingat baru satu laga yang dilewatkannya ketika Uruguay kalah 0-2 dari Kolombia.

Tanpa El Pistolero, julukan Suarez, Uruguay memang tampil kurang menggigit. Andil besarnya sejak awal babak penyisihan yang bisa membawa juara dunia dua kali tersebut bisa lolos ke perdelapan final, terutama ketika dua golnya memastikan kemenangan 2-1 atas Inggris.

Sementara larangan empat bulan tidak boleh beraktivitas yang terkait dengan sepak bola, itu mungkin dirasa yang paling berat untuknya. Penyerang yang berstatus sebagai pemain Liverpool ini langsung dipulangkan ke negaranya usai FIFA mengumumkan sanksinya. Itu berarti pula dia akan absen dalam sembilan pertandingan awal Liga Inggris dan baru bermain pada 26 Oktober 2014. Bisa jadi dia akan dilarang pula untuk ditransfer mengingat administrasi jual beli pemain sepak bola internasional juga diawasi oleh FIFA. Padahal Barcelona dan Real Madrid sudah menyatakan ingin mengontraknya.

Setelah hukuman tersebut banyak pihak yang setuju tapi ada juga yang memberikan simpati untuk Suarez. Jose Mujica, presiden Uruguay, maestro sepak bola Diego Maradona, dan Oscar Tabarez, pelatihnya di timnas, sudah terang-terangan mengungkapkan dukungan mereka untuk Suarez dan mengecam hukuman berat yang dikeluarkan FIFA.

Kini, pertanyaannya, pantaskah hukuman yang sedemikian berat itu bagi Suarez? Tulisan ini akan coba menganalisisnya dari beberapak aspek yang saling terkait.

Hukuman terberat dalam sejarah Piala Dunia
Larangan bermain dalam sembilan pertandingan setelah melakukan tindakan tidak sportif di lapangan merupakan yang terberat sepanjang sejarah Piala Dunia. Sebelumnya, sanksi larangan bermain dalam pertandingan internasional diterima oleh Mauro Tassotti. Pemain Italia tersebut diputuskan bersalah dan diberi ganjaran berat setelah mematahkan hidung gelandang Spanyol, Luis Enrique, dengan sikunya. Gelandang Barcelona tersebut pun harus berlumuran darah hingga membuat baju seragam putihnya berwarna merah akibat insiden tersebut.

Sebelum menghukum Suarez, dalam edisi kali ini, FIFA lebih dulu menghukum Alex Song. Pemain Kamerun tersebut disanksi larangan tampil dalam tiga pertandingan setelah diusir wasit akibat perilaku tidak sportif saat kalah dari Kroasia di pertandingan kedua grup A.

Tindakan Suarez dengan mengigit Chiellini dianggap merupakan aksi yang lebih berat. Tindakan tersebut dianggap tidak bisa dimaafkan oleh FIFA yang sedang giat mengkampanyekan permainan sportif dan meminimalkan aksi-aksi menjurus kekerasan di lapangan. Apalagi, alih-alih langsung meminta maaf, Suarez sempat membela diri dengan mengatakan bahwa sebenarnya dia kehilangan keseimbangan yang membuatnya menabrak Chiellini dan tidak sengaja giginya jatuh di bek jangkung tersebut. Suarez sendiri lalu akhirnya meminta maaf langsung pada Chiellini pada Senin (29/6).

Bukan kasus pertama Suarez dan dampaknya bagi anak-anak
Lebih buruk lagi, aksi tersebut bukan yang pertama. Melainkan sudah yang ketiga kali sepanjang karir profesional Suarez, sejak di Uruguay, Belanda, hingga akhirnya berlabuh di Inggris hingga saat ini.

Luis Suarez pernah menggigit tangan Branislav Ivanovic ketika membela Liverpool. Suarez tertangkap melakukan gigitan melalui video, bukan langsung oleh wasit. Karena perlakuan tidak sportifnya tersebut, dia dihukum larangan bermain dalam 10 pertandingan pada April 2013 lalu. Bagi Suarez, hukuman tersebut dianggap terlalu berat dan mengatakan bahwa hukuman yang layak baginya adalah tiga pertandingan. Pernyataan yang kemudian dikritik oleh komite disiplin FA bahwa Suarez tidak menyadari betapa berbahayanya aksi yang dia lakukan.

Sebelumnya, Suarez juga pernah menggigit leher pemain PSV, Otman Bakkal pada 2010 ketika masih berstatus sebagai pemain Ajax Amsterdam. Lantaran insiden tersebut, Ajax melarangnya bermain dua kali ditambah denda. Hukuman yang kemudian oleh KNVB, federasi sepak bola Belanda, ditambah menjadi larangan tampil sebanyak tujuh kali. Suarez sendiri langsung meminta maaf setelah insiden tersebut melalui video yang diunggahnya ke internet. Oleh De Telegraaf, media Belanda, Suarez disebut sebagai Cannibal of Ajax. Saat sedang menjalani hukuman, Suarez dijual ke Liverpool.

Perilakunya yang terdahulu tersebut membuktikan bahwa hukuman tidak membuat jera sang pemain. Ada satu lagi pertimbangan mengenai pemberian hukuman yang rasanya juga dipertimbangkan oleh FIFA, yakni mengenai kemungkinan tindakannya tersebut menjadi inspirasi buruk bagi anak-anak. Apalagi dia merupakan sosok idola dan pahlawan bagi jutaan anak di seluruh dunia yang menggemari sepak bola dan kerap menyaksikannya beraksi melalui layar televisi.



Hukuman seperti ini pernah dirasakan oleh salah satu pemain penting Inggris, Wayne Rooney. Pemain yang dibesarkan oleh Everton tersebut pernah dihukum oleh asosiasi sepak bola Inggris FA pada 6 April 2011 setelah mengucapkan kata kotor, f***, sebanyak dua kali ke arah kamera televisi. Rooney melakukannya ketika merayakan gol dari titik penalti yang merupakan gol ketiganya di pertandingan melawan West Ham United tersebut. Gol Rooney sangat berarti bagi Manchester United karena berkat hat-trick-nya, United unggul 3-2 atas sang tuan rumah.

Namun, akibat kelakuannya tersebut Rooney dihukum larangan tampil dalam dua pertandingan. FA memberi sanksi karena Rooney dianggap melanggar larangan penggunaan kata kotor atau ofensif. Lebih lanjut, apa yang dilakukan oleh penyerang Setan Merah tersebut bisa menginspirasi kebiasaan mengeluarkan kata-kata kotor oleh remaja di Inggris yang tentunya menyaksikan secara langsung di layar televisi.

Dan ternyata apa yang dikhawatirkan benar. Harian The Sun sempat menulis bahwa anak sekolah berusia 7 tahun menggigit temannya saat bermain sepak bola. Harvey Eaglen, sang anak, menjawab “what footballers do” ketika ditanyai oleh gurunya mengapa dia menggigit rekan sekolahnya. Harvey tinggal di Liverpool dan dia merupakan pendukung The Reds, wajar jika Suarez merupakan sosok pahlawan baginya. Sayangnya, dia justru meniru sisi negatif sang idola.

Dengan mempertimbangkan hal-hal yang terkait rasanya pantas hukuman sembilan pertandingan internasional dan denda 100 ribu franc Swiss bagi Suarez. Tetapi, bagaimanapun perlu ada pertimbangan dari sisi kemanusiaan bagi Suarez. Bukanlah hal yang mudah bagi pesepak bola yang sehari-hari berkecimpung dengan sepak bola lantas dilarang terlibat dalam aktivitas sepak bola, termasuk masuk ke stadion dan berkumpul bersama timnya.

Di saat dia sedang jatuh, tetap memberikan akses baginya untuk terlibat dalam sepak bola mungkin baik baginya dan keluarga untuk tetap menjalani hidup serta bangkit dari keterpurukan. Seperti yang dikatakan oleh Chiellini. Bek Italia dan Juventus tersebut sudah memberikan maaf dan mengatakan FIFA perlu mereduksi hukuman yang diberikan kepada Suarez agar dia tetap bisa berkecimpung di sepak bola.

Hukuman sembilan pertandingan internasional, denda mencapai Rp 1,4 miliar, serta tindakan sponsor pribadi Suarez yang mulai memutus kontrak dengannya (seperti salah satu situs judi online) maupun yang sedang mempertimbangkan kembali isi kontrak rasanya sudah cukup berat bagi Suarez. Jadi, FIFA perlu mempertimbangkan hukuman larangan empat bulan berkecimpung di sepak bola. Setidaknya, komite disiplin FIFA perlu kembali bersidang untuk membahas mengenai masalah ini.

Sumber: https://id.olahraga.yahoo.com/blogs/arena/

0 comments:

Post a Comment